Home Page

Selasa, 29 Maret 2011

KaWaH IJeN

Target traveling
Catatan traveling saya kali ini berceritera pencapaian pendakian gunung Ijen dan Tengger. Yg sangat mungkin tidak akan bisa saya ulang lagi dibelakang hari. Memanfaatkan waktu liburan "Paket Wisata ultah dinas 25Th, traveling persiapkan jauh hari sebelumnya.Sadar akan umur saya yg sudah kepala 5 dan  target traveling yg marathon : Kawah Ijen Banyuwangi +/‑2400 meter dpl, yg hanya bisa dijangkau dg climbing/treking karena kendaraan hanya sampai di Paltuding desa terakhir,  untuk kemudian traveling akan estafet ke pegunungan Tengger menembus Ranupani lewat jalur normal wisata, yakni Sukapura/Probolinggo. Saya jadwalkan bulan Desember/Januari untuk mendapatkan nuansa kabut yg tebal disitus Tengger. 
 
Satu perjalanan sangat menantang yg bukannya tanpa resiko, namun demikian semuanya bisa diantisipasi awal.



Dibanding dg  pendakian beberapa tahun silam, yg terkesan asal berangkat, pendakian kali ini saya persiapkan dg perfect (njlimet) hampir 3 bulan. Satu‑satunya kendala adalah keikut sertaan anak saya yg cewek dan keponakan saya yg menilik berat badannya hanya cocok dg traveling kelas plaza dan metro. Namun demikian melihat tekadnya yg militan, feeling saya mengatakan pendakian akan tembus mencapai puncak (kawah ) dg selamat.

Hypnotisme Kawah Ijen
Di balik keangkerannya, kawah Gunung Ijen menyimpan sejuta pesona yang mampu membuat decak kagum pengunjungnya. Betapa tidak, ditengah kawah gunung berapi terbentang danau yg seluas +/‑ 60 hektare dengan air berwarna hijau Giok atau hijau tosca. Obyek wisata yang berada di kawasan G.Ijen‑G.Raung‑G.Kendeng dan G.Merapi Ijen ini sudah sangat popular di Eropa utamanya Perancis dan Belanda karena  memang menawarkan  selaksa citra. Semakin lama dipandang, kesan ganas yang melekat pada nganga kawah ini berangsur sirna. Bayangan kengerian pada gunung berapi yang biasanya mampu melumatkan semua makhluk hidup saat menyemburkan lava panas dari perut bumi,  pun hilang. Kesan menakutkan itu berganti dengan rasa takjub dan decak kagum tiada habisnya. Secanggih apapun bekal  kamera kita, dg fasilitas optical zoom yg berlipat lipat serta lensa bertype leica, belum akan mampu menterjemahkan citra kawah ijen dihamparan mata.

Eksotisme kawah gunung berapi, ketenangan air kawah yang berwarna hijau giok, akan berubah warna dibeberapa saat berselang. Dari hijau Tosca ke biru cemerlang kemudian berubah lagi kuning keemasan yg konon menurut pakar karena pengaruh Fisika dan kimia. Danau Kawah Ijen merupakan reaksi multi komponen yang didalamnya terjadi berbagai proses baik fisika maupun kimia antara lain pelepasan gas magmatik, pelarutan batuan, pengendapan, pembentukan material baru dan pelarutan kembali zat‑zat yang sudah terbentuk sehingga menghasilkan air danau yang sangat asam dan mengandung bahan terlarut dengan konsentrasi sangat tinggi. Pengaruh fisika karena kawah itu masih sangat aktif sedangkan sumber fumarol ‑ sulfatara, belerang yg sangat besar dari dasar kawah.  Lebih menakjubkan lagi saat itu, saya menikmati di pagi hari. Air kawah yang berasap dengan kadar keasaman sampai mencapai nol itu akan cukup kuat untuk melarutkan pakaian dan jari jemari itu,  panasnya mencapai lebih 200 derajat celcius. Memancarkan kemilau keemasan saat sinar mentari menerpa dari balik Gunung Merapi Ijen saudara kembar Gunung Ijen.

Route ke Ijen
Letaknya memang diujung timur pulau Jawa, antara Bondowoso dan Banyuwangi yg sepertinya masih terkesan tradisional, angker dan dipercaya oleh sebagian masyarakat adalah tempat yang masih wingit, ternyata situs ini tidak terlalu sulit untuk dijangkau dengan kendaran roda empat, asal kendaraan kita dalam kondisi prima !
 
Terdapat dua cara untuk mencapai kawah Ijen, pertama melalui kota Banyuwangi sejauh 38 km ke barat melalui Desa Licin, desa Jambu dan terus ke Paltuding (1,600 mdpl) desa terakhir. Selanjutnya hanya bisa diteruskan dg climbing (jalan kaki).
Cara kedua adalah melalui kota Bondowoso 70 km kearah timur melalui Wonosari, Sempol (800 mdpl) terus ke Paltuding.  Cara kedua ini paling banyak ditempuh orang karena melalui jalan aspal hotmix mulus. Turis asing selepas kunjungan di Bromo biasanya datang melalui Bondowoso, kemudian meneruskan perjalanan melalui Banyuwangi terus ke Bali dan Lombok.

Jalur 1
Surabaya‑‑‑>Pasuruan‑‑‑>Probolinggo‑‑‑‑>Besuki‑‑‑‑>Bondowoso‑‑‑>Wonosari‑‑‑> Sempol‑‑‑>Paltuding‑‑‑> Kawah

Jalur 2                        
Banyuwangi ‑‑‑‑‑> Ds.Licin‑‑‑‑> Ds.Jambu‑‑‑‑‑> Paltuding‑‑‑‑> Kawah

Untuk mengejar perjalanan di pagi hari sehingga bisa menikmati kawah saat matahari terbit dan belum banyak kabut, memang sebaiknya kita menginap di lokasi terdekat: Bondowoso  kota pegunungan yang bersih, atau di Situbondo sebuah kota pantai. Jika anda menyukai suasana perkebunan dan pegunungan yg sangat alami, tempat yang berkesan untuk bermalam adalah Guest House / Home Stay Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat, Jampit. Guest house ini terletak didalam kompleks perkebunan pada ketinggian sekitar 1,200 mdpl. Selain itu juga masih ada Home stay di BLawan juga milik PTP XII, tersedia juga  Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, atau membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding. Temparature rata‑rata di sekitar kawah Ijen adalah 10 deg.C di siang hari dan 2 deg.C di malam hari. Saya sendiri memilih di HomeStay Kalisat.


Dari Surabaya saya berangkat jam 3 pagi mengikuti jalur pertama, disamping menghindari macet di Lapindo Porong / Sidoarjo kami berencana sarapan pagi Rawon Nguling ( Pasuruan yg sudah terkenal itu ) untuk kemudian kami akan berkendara aman dan santai dijalur yg memang padat karena arus Surabaya ‑ Bali. Memasuki jalur Besuki ‑ Bondowoso tidak bisa dihindari harus melintas hutan Bentar yg sudah terkenal rawan kecelakaan karena tikungannya yg maut serta sisi kiri terbentang Jurang Arak‑2 yg mengerikan namun juga indah untuk dipandang bagi yg tidak memegang stir.
Selepas dari jalur hutan Bentar saya sempatkan mencari warung kopi di Bondowoso untuk melepaskan ketegangan karena konsentrasi dijalur maut tsb,sambil makan tape Bondowoso yg khas.

Dari Bondowoso kami ngikut jalur ke Situbondo untuk kemudian belok kekanan menuju Wonosari. Di Wonosari suasana pedesaan dan persawahan dg udara yg sejuk segar sudah terasa sejak awal kami memasukinya. Selepas Wonosari menuju Sempol lansung disambut jajaran pohon pinus dikiri kanan jalan yg beraspal hotmix sepanjang kurang lebih 30 menit perjalanan, sangat indah menikmatinya.

Belum hilang kami memuji keindahan jajaran pohon pinus serta aromanya yg khas, sudah dihadang hutan belantara dg pohon2 sebesar dua pelukan orang dewasa, matahari tidak tembus karena dahan satu dan pohon lainya saling ketemu dari kiri dan kanan jalan. Kuntur jalanan mulai menanjak curam, kendaraan hanya bisa memakai gigi 1 atau 2, aspal mulai berlubang parah disana sini. Setengah jam lebih belum ada tanda‑2 kami melewati belantara sunyi itu tanpa ketemu pondok atau gubuk petani. Hanya sekali kali  berpapasan dg mobil travel berplat nomer Bali yg baru turun dari kawasan Ijen. Kecemasan mulai menggerogoti mental kami yg dimobil, bayangan perampok atau begal membuat saya terlalu kosentrasi sehingga cara mengemudi saya mulai kurang presisi sehingga beberapa lubang besar tidak mampu saya hindari.
Dalam keadaan begini saya berharap ban mobil tidak bermasalah, karena kalau hal itu terjadi akan menambah kecemasan kami. Satu jam lebih kami harus berjuang dg kesenyian alas gong Lewang Liwung itu, untuk kemudian disambut udara sejuk‑dingin dan hamparan tebing tinggi dg pinus yg lebat serta jalanan yg mulus kembali.
Dari kaca spion saya lihat mereka yg dijok belakang  menampakan wajah sumringah melihat situs ini. Saya kembali kekarakter asli dalam handling mobil. Didepan terbentang portal dan pos penjagaan, inilah pintu pertama memasuki areal perkebunan kopi. Saya buka kaca mobil, wusss....wuussss....udara dingin menyerbu bersamaan harum bunga yg belakangan saya sadari itulah aroma tanaman kopi yg sedang berkembang. Setelah mengisi buku tamu kami mampir di warung satu satunya yg ada disamping pos, hanya tersedia mie instan dan kue kering,namun kopi yg disajikan bercitarasa klas 1.
Jangan berlama lama meminumnya, karena dlm hitungan menit kopi kita sudah mendingin.

Homestay                                                                       
Route lanjutan menuju homestay PTP XII di Kalisat melewati perkebunan kopi yg tertata rapi setinggi pinggang manusia dewasa. Dimana sering terbaca tulisan larangan berburu. Beberapa saat setelahnya sering saya jumpa serombangan ayam hutan melintas jalan aspal, hal ini rupanya arti dalam tulisan larangan tsb.
Homestay Kalisat cukup bersih dan luas, setara dg Guesthouse PTB, dengan lokasi yg sangat ideal bagi wisatawan. Halaman dan teras depan langsung bisa berhadapan dg tebing G.Kendeng yg punggungnya selalu diselimuti kabut. Sedangkan teras belakang 4 gunung sekaligus antaranya Ijen, Merapi Ijen, Raung dan Widodaren seolah didepan mata.

Check in,di Homestay PTP XII belum terlalu sore, ternyata masih banyak yg nginap utamanya wisatawan dari Belanda. Diluar dugaan, hari Senin yg menurut prakiraan pendakian agak sepi ternyata tetap ramai. Memanfaatkan waktu sebelum gelap, wisata sekitar homestay diantaranya : airterjun Damarwulan, pemandian air panas, agro wisata perkebunan kopi dan bunga petik, serta peternakan lebah madu yg arealnya sangat luas harus habis dikunjungi.




Selepas mahgrib penginapan dan sekitarnya sangat sunyi, hanya ada satu telivisi diruang tamu (loby), itupun kami segan nyetel, turis‑2 itu lebih menyukai kesunyian. Karena ini memang lokasi perkebunan kopi, tersedia pot besar kopi dg citarasa yg heemm...ini baru kopi atau ini kopi baru. Tidak ada yg saya kerjakan, diluar kabut sangat gelap. Saya bawa tidur awal agar besok bisa prima....tidak bisa terlelap. Baru kuingat kopi yg saya minum sore tadi, kuputuskan meminum obat tidur dan vitamin.


PeRSIAPAN MeNDAKI
jAM 4.15,selepas subuh suasana masih gelap gulita kami sudah berpakaian lengkap climbing, sesaat mau sarapan pagi kami batalkan sbg gantinya makanan dibox (bungkus) karena londo londo gendeng itu sudah berteriak teriak ngajak berkonvoi menuju Paltuding. Kami ok, tidak ada masalah, semua perlengkapan dan obat obatan berada di back packer saya, sedangkan minuman berenergi (Gatorade) yg kami persiapkan serta makanan jenis Power Gel yg mudah dicerna ada di Camel Back anak saya, Sasha. Perjalan ke Paltuding, desa terakhir yg bisa dijangkau mobil hanya sekitar 15 km, melewati 2 pos jaga untuk mengisi buku tamu disetiap portal dengan membayar sukarela pada penjaga sebagai penganti uang rokok.

dINGIN,kabut masih diatas permukaan aspal namun kokok ayam hutan lantang saling bersautan, menggugah semangat kami untuk mulai pendakian. Dimulai dari parking area Paltuding, satu tanah lapang yg luas dikelilingi pohon pinus dan beberapa warung diantaranya. Pemandangan di tanah lapang pagi itu adalah aktifitas para pendaki. Ada yg merapikan kemah, ada pula yg menggulung bersiap climbing dan banyak yg lagi memasak makanan. Suasana kayak persiapan prajurit mongol yg akan berangkat perang. Disini pula kami registrasi pendakian sekaligus melapor pada SAR rencana pendakian kami. Setelah mendapatkan pengarahan, kami melakukan peregangan secukupnya.

mOUNTAIN cLIMBING
Jam 5.00 kami start, diawali dengan jalan setapak ganda, yg kelandaiannya biasa biasa saja, kami lahap awalan setapak ini dengan enjoy dan speed hiking yg cukup santai selama kurang lebih 40 menit.
Anak saya Sasha masih terdengar bernyanyi nyanyi kecil. Pendakian kekawah Ijen diperkirakan 2 sampai 2,5jam dengan berjalan normal, dan 1,5 s/d 2jam untuk pendaki sejati(prof) atau anak club pecinta alam.
Route seanjutnya,tipikal jalan mulai menunjukan keterjalan yg ekstrem, londo londo gendeng itu sudah menghilang ditikungan rimbun depan kami. Dua puluh menit kemudian Sasha minta istirahat, rambut dan badanya basah oleh keringat serta wajahnya sedikit pucat. Saya sendiri merasakan detak jantung sudah tidak beraturan. Kurang lebih 10 menit kami beristirahat / recovery, selama itu pula sering kita bertemu para pemikul belerang sudah turun dari puncak dengan membawa belerang seberat 65 sampai 80 kg.


















Pendakian kami lanjutkan dengan target 30 menit untuk kemudian recovery lagi, namun baru 15 menit kami climbing nafas sudah ngos ngosan. Kadar oksigen mulai tipis karena ketiggian. Itu sebabnya kami utamanya Sasha lebih cepat cape disamping memang berat badanya yg kurang ideal untuk mendaki. Kami berhenti istirahat kembali, hal ini terus bERULANG untuk pendakian yg semakin terjal. Waktu sudah menenjukan 08.00, berarti kami sudah melewati durasi 3 jam pendakian.Beberapa club pecinta alam sudah menapak down hill dan menyapa kami dg keramahan khas pndaki gunung. Sempat kami tanyakan jam berapa berangkat kok jam segini sudah pada downhill, mereka rata2 berangakat jam 02.00 dinihari,woooww...seru banget. Pendakian selanjutnya banyak menguji emosi dan kesabaran saya untuk menolong kram (kejang) otot yg dialami Sasha. Stop X dan counterpain ngga bisa dipakai karena membatu, namun kami sudah siap Zheng gu Zhui dan Woodlock yg obat cina itu. Pengalaman saya di sepeda gunung banyak membantu situasi ini, namun pada moment yg sama sekilas saya masih melihat kilatan mata anak saya yg tajam,memancarkan determinasi tinggi.

PONdOK bUNDER 2214 mdpl
Kurang lebih 30 menit kemudian kami mencapai pondok Bunder, dulu gedung kuno berarsitek Eropa, berbentuk bunder menyerupai benteng ini dibagun Belanda sebagai pengedalian irigasi lereng Ijen termasuk perkebunan kopinya, sekarang dialih fungsikan sebagai pos dan sedikit dibawahnya adalah tempat penimbangan belerang. Kami istirahat disini, dimana petugas penimbang juga membuka warung kopi dan menjual mie rebus.


MeLINTAS CaLDERA
Kami Lanjut pendakian, dimana kuntur tanah sudah berubah dari tipikal lereng dan perbukitan menjadi kaldera disisi kiri dan jurang tidak tampak dasar disisi kanan kami.
Asap belerang semakin jelas merangsek hidung, ini waktunya menutupkan saputangan basah agar pernafasan tidak tersedat, tidak perlu takut, disini diperlukan kesabaran untuk bergerak dan mengatur nafas. Jangan terlalu mengandalkan pernafasan hidung, banyaklah mengandalkan pernafasan mulut.


PuNCAK iJEN 2400 mdpl
Step,step,step,Wuuusss..Byaaarr.langit diatas Ijen terang benderang,cerah sekali.
"Kami berpijak pada bumi yang tertinggi disitus itu."
Emosi kami orgasme, inilah pencapaian pendakian dengan perjuangan yg luar biasa. Betapa tidak, Puncak Ijen 2400 mdpl tergapai, saat ini saya menembusnya bersama seorang anak perempuan 11 th dengan berat badan diatas rata rata.
Didepan kami terbentang sebuah tipikal jalan landai dari padatan lava dan batu cadas selebar kurang lebih 10 meter, datar berkelok, mengelilingi kawah seluas lebih 60 hectare.

Kami berangkulan ditepi kaldera, sulit menggambarkan kegembiraan saat itu.
Puncak Ijen yg normal ditempuh 2 sampai 2,5 jam pendakian(laki2)kami climbing dengan kegigihan dan kesabaran selama 4,5 jam..haaa..haaa..mengingatkan saya pada pameo jawa :Alon alon syukur kelakon.
Thanks a lots, yaa Allah atas kesehatan, tanpa itu kami tidak sampai disini.

dASAR KaWAH

Pemandangan lain didasar kawah, sejajar dengan permukaan danau, terdapat tempat pengambilan belerang.

Asap putih pekat keluar menyembur dari semacam pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang.

Lelehan 600 drajat C fumarol berwarna merah membara merembes keluar dan membeku karena udara dingin, selanjutnya membentuk padatan belerang berwarna kuning terang. Terkadang bara fumarol menyala tak terkendali, yang biasanya segera disiram air untuk mencegah reaksi berantai.

NaMUN, hal demikian sebisa mungkin dihindari ntuk mencegah hasil belerang menjadi dominan porositas (porosity). Bongkahan batu belerang ini dipotong dengan linggis dan diangkut kedalam keranjang untuk dipikul naik dari permukaan kawah menuju ke puncak, kemudian menuruni lereng lereng setapak menuju tempat penimbangan dekat Pondok Bunder 2200 mdpl, setelah itu diteruskan ke Desa Paltuding (tempat penampungan).

Pemandangan sepeti itu akan selalu menghiasi pendakian kita disepanjang jalan ke kawah.


JaLUR PeMIkUL BeLeRANG

Tiba di bibir kawah, pemandangan menakjubkan akan segera tersaji di depan mata.

Sebuah danau berwarna hijau tosca dengan diameter sekitar 1 ‑2 km yang berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Dari sini kita bisa melihat penambang‑penambang belerang yang berada di dekat danau.

Untuk mendekat, kami harus menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak cadas yang juga biasanya dilalui oleh para penambang dalam tempo sepenanakan nasi lamanya, sepintas memang MeNGeRIKAN namun saya sudah disini, kepalang tanggung untuk tidak turun mendekat. Sapu tangan basah dan sunglass disini sangat dibutuhkan, dimana acapkali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur downhill (penurunan).




Gamang, karenanya saya lakukan sendiri sedangkan Sasha menunggu di Puncak Kawah.

Setapak demi setapak saya down hill dg hati hati karena batu cadas yg saya pijak bukan tidak mungkin lepas dari satuannya dan longsor untuk kemudian akan ditampung kawah dibawah yg mendidih blekutuk blekutuk itu.

Semuanya dibayar lunas dg panorama yg menakjubkan setelah sampai didasar kawah. Danau Kawah dan aktifitas penambang bisa kami akses tanpa jarak. Panorama inilah yg sebelumnya saya tulis, kamera kita tidak mampu menterjemahkan citra keindahan kawah ciptaanNYA.



PeNAMbANG tRaDISIoNaL

Lokasi penambangan ini adalah pemandangan unik yang lain dari wisata Kawah Ijen selain tentunya keindahan panorama yang ada di sana. Penambangan belerang masih memakai cara tradisional dimana pengangkutannya dg dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional semacam ini hanya terdapat di Indonesia yaitu di G.Welirang (Trawas, Pacet) seperti yg ditulis P.Mulyono dan G.Ijen. Beban yang diangkut masing‑masing penambang antara 60 sampai 80kg.

Beban ini luar biasa berat ditambah harus dipikul melalui dinding kaldera yang begitu curam.

Bayangkan resikonya dibanding penghasilan yang diterima seorang penambang rata‑rata Rp.30 rb atau sekitar Rp.400 /Kg

Satu orang penambang biasanya hanya mampu membawa satu kali perjalanan setiap harinya, karena beratnya pekerjaan.



bAhAYA kAWAH iJEN

Sebuah kubangan raksasa ciptaanNya yg luasnya lebih dari 60 hektare dan berada di ketinggian 2400 mdpl ini, merupakan kawah tercantik seluruh gunung berapi yg pernah saya lihat. Bahkan sebagian besar penjelajah akan menyetujui kalau kawah ini adalah danau kaldera terbesar di Indonesia. Airnya berubah ubah seiring reaksi kadar belerang dan pengaruh fisika, dari  hijau giok / tosca, kekuningan dan kebiruan. Berpadu dengan bibir kawah yang kelabu hitam keemasan.

Demi alasan keamanan, pendakian ke kawah ijen dari Paltuding ditutup selepas pukul 14:00, karena pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian.



MaDU "Rasa Kopi" dari Kaki Kawah iJEN

SEPANJANG perjalanan pintu masuk Taman Nasional Kawah Ijen melalui Desa Tamansari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, mata akan disuguhi oleh hijaunya daun dan rerumputan.

Sesekali, mata tersapu oleh kabut yang turun cepat pada siang hari.

Namun, di beberapa titik tertentu, mata akan disuguhi pemandangan lain. Puluhan kotak berukuran seragam tertata rapi di atas hamparan rumput di tepi jalan, mengundang rasa ingin tahu siapa pun yang melalui jalan itu.



Warna ngejreng yg funky seperti pINK, bIRU bENHUR, atau hIJAU sTABILO cukup kontras dengan warna rerumputan.

Sepintas saya mengira ini adalah BEKUPON ( rumah burung merpati) kalau di surabaya.



Kotak dengan ukuran +/‑ panjang 70/80 sentimeter (cm), lebar 40 cm, dan tinggi 40 cm itu, ternyata tempat memelihara lebah madu yang diternakkan untuk diambil madunya. Masing‑masing kotak yang disebut sETuP rata‑rata berisi tiga hingga delapan sisir sarang lebah madu yang nantinya diperas untuk diambil madunya.

Salah seorang peternak lebah madu di Desa Tamansari, menuturkan, ia bergabung dengan empat orang peternak lebah madu sejak tahun 1997 silam. Setiap anggota kelompok tersebut rata‑rata memiliki 30 buah setup yang dapat dipindah‑pindah.




LeBAH RaTU

"Waktu masih awal dulu, saya punya 11 setup. Saat ini sudah punya 40 setup," ujarnya ringan. Setup‑setup yang terbuat dari papan itu harus diberi lebah ratu yang akan mengundang lebah pekerja supaya membentuk sarang.

Untuk memperoleh lebah ratu, peternak dapat membeli di pasaran dengan harga yang cukup lumayan, berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 250.000. Nantinya, ratu‑ratu lebah yang harus diganti setiap tahun ini menjadi aset yang sangat berharga karena menentukan kesuksesan usaha peternakan lebah yang dikembangkan.



Setup yang sudah terisi ratu tidak dapat begitu saja ditinggalkan.

Setiap dua hari sekali peternak lebah madu harus mengontrol kondisi ternak mereka sehingga dapat terhindar dari penyakit. Jika bunga‑bunga sedang tidak bermekaran di sekitar lokasi setup, peternak menyiasati dengan memberikan gula pasir kepada lebah sebagai pengganti nektar (sari bunga) dan tepung sari dari bunga yang menjadi makanan lebah sehari‑hari.

KONDISI setup yang mobil atau dapat dipindah‑pindah sengaja diciptakan agar peternak dapat membawa lebah madu mereka ke lokasi yang potensial dengan makanan madu.  

Oleh sebab itu, madu yang tersedia di kawasan ini terdiri dari beberapa cita rasa, seperti kopi dan randu (pohon kapuk).

Bahkan, seperti yang dikatakan petani madu tsbl, terdapat bulan‑bulan khusus yang tepat untuk beternak lebah di sebuah wilayah. Misalnya, pada bulan Mei‑Juni, peternak akan memilih untuk memindahkan lebah mereka ke kawasan Pasuruan karena saat itu kondisi di Pasuruan sedang baik untuk lebah madu.

Pada saat itu, bunga randu dan kopi tengah bermekaran sehingga pakan lebah madu cukup tersedia.



LeBAH PeMAKaN GuLA

So, musim buah apa yang sedang berlangsung pada suatu waktu akan diingat dengan cermat oleh peternak lebah madu. Misalnya, pada bulan September, kawasan Ijen akan dipenuhi bunga kopi hingga bulan Desember

Namun,sampai April, lebah madu akan beralih menu makanan ke gula pasir karena pada waktu itu, bunga‑bunga sedang tidak bermekaran sehingga lebah tidak dapat mengandalkan bunga sebagai sumber makanan mereka.



Sebagai salah seorang peternak lebah madu / Apis dorsata, petani itu mengaku dapat memanen hasil ternaknya dua kali dalam sebulan. Setiap delapan sisir sarang lebah madu yang makan tepung sari bunga randu dapat menghasilkan empat botol madu randu, sedangkan setiap empat sisir sarang lebah yang makan bunga kopi akan menghasilkan sebotol madu kopi.

Meski mempunyai nama yang sama, yaitu madu, madu randu dan madu kopi memiliki perbedaan.

Jika diletakkan berdampingan, madu kopi memiliki warna yang lebih tua dibandingkan dengan madu randu.

Dari segi rasa, madu randu terasa lebih segar akibat perpaduan rasa manis dan sedikit asam.

Berbeda dengan madu kopi yang rasanya sangat manis.



"Semua ada peminatnya karena masing‑masing pembeli memiliki selera yang berbeda.

Oleh karena itu, meski cita rasa madu tersebut berbeda, peternak madu menerapkan harga yang sama untuk tiap jenisnya.

Setiap botol madu yang dijamin asli oleh penjual sekaligus peternak lebah madunya‑dijual seharga Rp 25.000 s/d Rp 35.000. Harga tersebut berbeda antara satu peternak dan peternak lainnya.



MESKIPUN mampu menghasilkan puluhan botol madu setiap bulannya, para peternak di Desa Tamansari masih mengandalkan sistem penjualan yang sederhana. Mereka sengaja membidik, bahkan menggantungkan diri kepada pembeli yang melalui jalan menuju Taman Nasional Kawah Ijen yang juga memiliki status sebagai obyek wisata itu.

Meski tanpa promosi, madu yang dihasilkan oleh peternak lebah madu di Desa Tamansari tetap laris.

Bahkan, wisatawan yang mengunjungi Kawah Ijen selalu menyempatkan diri untuk mampir sejenak di rumah‑rumah peternak lebah madu yang juga berfungsi sebagai "toko madu".




dIMADU

Soeraji, salah seorang petugas TN Kawah Ijen, bahkan mengaku menjadi konsumen setia madu produksi Desa Tamansari.     Kalau diminum tiap hari, badan rasanya seger, " katanya.

NAMUN sesaat saya mo beli untuk oleh2 ke Bontang dan meyakinkan bahwa " Apakah ini MADU ASLI "?

jawaban petani itu sangat mengejutkan saya.       

"Ooh bukan mas"  MADU ASLI sebaiknya jangan dibawa pulang, ntar bisa ribut bahkan perang dengan yg dirumah.

Hee...hee...hee..... Bisa juga petani desa itu ngejoke.

Selamat tinggal IJEN, entah apakah masih bisa KitA bertemu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar